Palangka Raya – Dengan semangat meningkatkan ketahanan pangan dari sektor perikanan. Terkini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mengembangkan budidaya ikan dengan sistem bioflok. Teknologi tersebut telah sukses diterapkan untuk budidaya ikan yang diberikan bantuan kepada berbagai pembudidaya di Kalimantan Tengah. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan), Ir. H. Darliansjah, M.Si memiliki target dan program guna mendukung Food Estate di sektor perikanan.
“Di masa pandemi covid-19 ini kita harus bisa terus bekerja maksimal agar ekonomi bangkit, para pembudidaya semakin kuat, covid lewat, tentunya dengan tetap mematuhi prokes” tutur Ir. H. Darliansjah, M.Si yang juga selaku Ketua Satgas Covid-19 Harian Prov. Kalteng.
Dislutkan Kalteng memiliki kolam percontohan yaitu demplot bioflok yang terletak di jalan Yos Sudarso, Kecamatan Jekan raya, Kota Palangka Raya. Terdapat 3 komoditas di demplot bioflok ini yaitu ikan patin, ikan lele dan ikan nila. Pemasaran dari hasil produksi ini tersebar ke seluruh wilayah Kota Palangka Raya.
David Hariyanto, S.Pi selaku penanggung jawab demplot bioflok mengatakan, teknik pembiakan ikan yang disebut bioflok, yaitu teknik pembiakan ikan dengan cara menumbuhkan bakteri di dalam air. “Bio artinya hidup, flok itu gumpalan. Jadi bioflok itu adalah gumpalan hidup. Jadi bakteri-bakteri itu tumbuh menjadi gumpalan yang akhirnya tumbuh menjadi makanan ikan” jelasnya.
Untuk ikan lele dengan kepadatan maksimal 1000/m3 di setiap kolam berdiameter 3 m yang berisi air setinggi 80 cm, ini 10-15 kali lipat dibanding dengan pemeliharaan di kolam biasa yang hanya 100 ekor/m3. Kepadatan itu adalah sebuah kesengajaan dikarenakan pengelolaan dari sistem bioflok tersebut, ungkap David.
Dengan metode ini, sisa-sisa pakan atau kotoran ikan akan diolah oleh bakteri tersebut lalu jadi makanan lagi. Hanya memang tetap diberi pakan. Keunggulan dilihat dari Feed Conversion Ratio (FCR) atau perbandingan antara berat pakan dengan berat total (biomass) ikan dalam satu siklus periode budidaya mencapai 0,8.
Keuntungan lainnya sistem ini dibanding metode konvensional adalah penggunaan air yang sedikit karena kepadatan ikan di kolam tersebut memiliki aturan tersendiri. Pergantian air kolam sebesar 1% dilakukan setiap 2-3 hari selama bulan pertama, selanjutnya menyesuaikan kondisi kolam. Sistem bioflok juga mampu meningkatkan produktivitas hingga 25-30 kg/m3 atau 12-15 kali lipat jika dibandingkan dengan di kolam biasa yaitu sebanyak 2 kg/m3. Keempat, waktu pemeliharaan lebih singkat, dengan benih awal yang ditebar berukuran 8-10 cm, kemudian selama 3 bulan pemeliharaan ikan sudah siap panen. Hasil Panennya pun lebih menguntungkan sekitar 46-93 kg/m3, dibanding budidaya sistem konvensional biasa 12 kg/m3.
David mengingatkan, dalam pemeliharaan ikan sistem bioflok, yang perlu dijaga adalah kandungan oksigen yang larut di dalam air. Hal itu, karena oksigen disamping diperlukan ikan untuk pertumbuhan juga diperlukan oleh bakteri untuk menguraikan kotoran atau sisa metabolisme di dalam air. Sedangkan untuk pH sudah rerata normal, terutama untuk daerah air asam seperti Kalteng disini, sistem kolam bioflok sangat memudahkan pengawasan pH air.
Teknologi Budidaya Sitem Bioflok tersebut dipilih, karena diakui sebagai teknologi yang ramah lingkungan. Keberhasilan teknologi sistem bioflok menunjukkan Pemerintah terus berinovasi mencari teknologi yang efektif dan efisien, dalam penggunaan air, lahan dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. (UFS/DVD/Foto:IFD)